Tak punya KPS, seorang bayi tak bisa dirujuk dari Yahukimo

Tak punya KPS, seorang bayi tak bisa dirujuk dari Yahukimo

Ospina dan bayi Deni di RSUD Dekai, Agustus 2016.

Ospina dan bayi Deni di RSUD Dekai, Agustus 2016.

AGUSTUS 2016. Genap delapan bulan bagi Deni Nipson, bayi 1 tahun 2 bulan, menderita sakit limpa. Pada Januari, dokter di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dekai, Yahukimo, memvonis bayi tersebut dan merujuknya ke rumah sakit di Kota Wamena. Namun, minimnya pengetahuan akan fasilitas layanan dan tak cukup biaya membuat kedua orangtunya tak dapat berbuat banyak.

Pagi itu, Rabu, 8 Agustus, sekitar pukul 8.40 di dalam ruang pendaftaran pasien RSUD Dekai. Ospina Wakla, ibunda Deni, terus menggoyang-goyang balitanya dalam gendongan, membujuknya diam dari tangis.

“Dia panas, bisul di pantat, terus sakit limpa juga, jadi dia menangis terus,” ucap Ospina.

“(Deni) sakit sudah lama, dari bulan Januari,” ujar Ospina melanjutkan kisahnya bersama sang buah hati.

“Waktu itu, dokter bilang dia sakit limpa,” sembari memegang perut Deni yang terlihat menonjol.

“Dokter bilang ke rumah sakit di Wamena baru bisa obati,” ucapnya, sambil menggoyang-goyang Deni yang kembali menangis. Ospina mengaku tidak mengerti apakah rujukan tersebut karena tak ada obat atau peralatan.

Ospina juga mengaku tak tahu menahu dengan adanya program pemerintah dalam hal kemudahan layanan perawatan bagi orang asli Papua.

Selang beberapa menit kemudian, panggilan untuk “Anak Deni Nipson” terdengar dari loket pendaftaran. Usai mengambil sebuah kertas, Ospina yang selalu menggantung sebuah noken (tas anyaman benang) di kepalanya, berjalan menuju laboratorium yang berada dibagian belakang rumah sakit.

Seorang petutugas medis mengambil sampel darah bayi Deni.

Seorang petutugas medis mengambil sampel darah bayi Deni.

“Mungkin malaria ka, dia panas, kepala sakit juga,” ujar Ospina penuh harap agar balitanya segera sembuh dan tidak menangis karena kesakitan lagi.

Sementara menunggu hasil pemeriksaan darah, Ospina menuturkan tentang kondisi keluarganya dan barangkali hal itu juga yang membuat orangtua Deni tidak sanggup membawanya berobat di kota Wamena.

Perjalanan dari Dekai ke Wamena hanya bisa ditempuh dengan menggunakan pesawat, kurang dari sejam. Setiap hari, hanya ada satu kali penerbangan dengan harga tiket antara Rp800 ribu hingga Rp1 juta per orang.

“Dia (suami) tinggal-tinggal saja di rumah, tidak kerja,” ujar Ospina yang masih sering ke rumah orangtuanya untuk makan.

“Nanti mau jual (ternak) babi, kalau laku baru ke naik ke Wamena,” ungkapnya.

Herani Dabla

Herani Dabla

Seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) “Orin Kidd” Dekai, Yahukimo, mengatakan pemerintah daerah dan wakil-wakil rakyat di DPRD Yahukimo untuk lebih serius memperhatikan kebutuhan dasar masyarakat. Terkait kesehatan, menurut Herani Dabla, masih banyak ditemukan warga yang sakit namun sering tidak mendapat obat dan tindakan medis di rumah sakit umum daerah Dekai.

“Pasien banyak tapi alat selalu kurang, obat terbatas. Mereka biasa suruh ke Wamena atau Jayapura,” kata Herani, mahasiswa tingkat pertama STIKES Dekai, yang beberapa kali mengantar keluarganya yang sakit.

Masalah kesehatan, kata Herani, yang sering dialami masyarakat kampung, tempat dimana ia juga bermukim, adalah malaria, HIV-AIDS, paru-paru, tumor, sesak napas, TBC. “Tapi, karena kurang alat, obat, jadi akibatnya banyak korban meninggal,” ucapnya.

Herani berharap, melalui pemerintahan Yahukimo yang baru ini, ada peningkatan perbaikan dalam bidang kesehatan khususnya masyarakat yang kurang mampu.

“Saya sebagai anak asli daerah, sangat harap Pemerintah baru, bapak Abock Busup, bisa bantu lihat masalah kesehatan ini. Anggota dewan juga, kami tidak pernah lihat mereka datang ke kampung atau tanya tentang masalah kesehatan di kampung,” ucap Herani. *

Tulisan ini pernah dimuat di tabloidjubi.com