Perang ‘Fisik’ Menjadi Alternatif Terakhir

Perang ‘Fisik’ Menjadi Alternatif Terakhir

Photo by Made Ali, Melbourne October 26, 2011

Richmond— Hari masih terang, meski jam menunjukkan angka pukul 7 malam.

Oktovianus Motte, satu dari lima juru runding dialog antara Jakarta dan Papua, mengatakan bahwa penyelesaian masalah yang terus berlangsung di tanah Papua akan ditempuh dengan jalan Perang Fisik jika tiga langkah lainnya tidak berhasil ditempuh.

“Saya melihat pola yang paling bawah,” ujar Motte menjawab pertanyaan seorang peserta pertemuan yang diselenggarakan oleh aktivis Papua di Richmond, Melbourne pada 26 Okbober lalu.

Kata ‘pola yang paling bawah’ dirujuk pada perlawanan secara fisik yang kini sedang didorong oleh pihak gerilya Papua Merdeka atau biasa disebut kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB).

Tentu, resikonya dengan pertaruhan nyawa. Bisa dipastikan, lebih banyak darah akan membasahi tanah Papua. Darah yang berjuang mendapatkan kemedekaannya dari penjajah baru—Indonesia, maupun darah yang mempertahankan wilayah yang diklaim sebagai miliknya—Indonesia.

Empat tuntutan yang didukung Motte tidak lain merupakan tuntutan empat organisasi/kelompok di Papua maupun luar negri yang sedang ramai dibicarakan.

Pertama; Jaringan Damai Papua (JDP) yang mendorong penyelesaian masalah Papua melalui Dialog antara Jakarta dan Papua bersama Pater DR. Neles Tebay, Pr sebagai Koordinator JDP dan Dr. Muridan S. Widjojo, salah satu anggotanya.

Dalam konsep yang ditawarkan JDP, dialog yang diinginkan antara pihak Papua dan Indonesia dengan melibatkan pihak ketiga yang netral sebagai mediator. Pihak ketiga yang dimaksud adalah pihak international, bisa atas nama negara maupun individu.

Kedua; Menggugat hasil PEPERA 1969, yang sedang didorong oleh anggota Parlemen Inggris seperti Andrew Smith, MP, dan Lord Harries. Sejak tahun 2008, Smith dkk terus berupaya mempengaruhi anggota parlemen Inggris dan pemerintah Ingrris.

Anggota Parlemen Uni Eropa yang dimotori oleh Dr. Lucas Caroline, MEP, Andrew Smith, dkk telah membentuk  International Parliamentary for West Papua (IPWP) di London, Inggris pada 15 Oktober 2008.

Perjuangan untuk menggugat PEPERA 1969 terus ditingkatkan ke tingkat hukum, yakni dengan dibentuknya International Lawyer for West Papua (ILWP) pada 2 – 5 April 2009 di Guyana, Amerika Serikat.

Ketiga; Mendorong tuntutan KNPB  yaitu Referendum, dibawah pimpinan Buctar Tabuni yang berpusat di Jayapura. Dan, keempat; adalah dukungan terakhir yang diberikan Motte, yakni Perang yang dipimpin oleh masing-masing komandan TPNPB yang tersebar diseluruh wilayah Papua.

Motte dan empat juru runding lainnya—Benny Wenda, Otto Ondawame, Leonie Tanggahma, Rex Rumakiek—terpilih dalam Konferensi Papua Damai bertemakan “Mari Kitong Bikin Papua jadi Tanah Damai” yang diselenggarakan oleh JDP selama tiga hari, yaitu 5 – 7 Juli 2011 di Auditorium Universitas Cendrawasih, Jayapura.

Sebagai juru runding dialog yang ditunjuk dalam konferensesi yang diselenggarakan oleh JDP, Motte mengawali pertemuan malam itu dengan sampaikan maksud perjalanannya ke Negeri Kangguru dan beberapa negara Pacific.

“…untuk promosikan proses dialog…” ujar pria bertubuh kecil dan berkacamata minus. Merespon kerja yang dilakukan utusan presiden Indonesia dalam mefasilitasi penyelenggaraan dialog, menurut Motte yang juga mantan wartawan Kompas, pemerintah Indonesia telah salah dalam mengartikan kata Dialog tersebut.

Sambungnya, dialog yang diharapakan orang Papua adalah kedua belah pihak duduk bersama dalam satu level sebagai suatu bangsa dan tentu dengan dimediasi oleh pihak ketiga yang netral, yakni melibatkan pihak international. Bukan memberikan sesuatu yang tidak diminta orang Papua.

Motte juga mengimbau para aktivis yang hadir agar memaksimalkan segala daya yang dimiliki demi mencapai tujuan bersama rakyat Papua.

Selain Motte, ada Paula Makabory yang berbicara dari sudut pandang kemanusiaan dan Amatus Douw, aktivis Papua yang berperan sebagai moderator dalam diskusi yang dihadiri oleh 19 orang dan 3 anak balita.

Acara ditutup dengan menyanyikan lagu ciptaan misionaris Izaak Samuel Kijne “Hi Tanah ku Papua” dengan iringan gitar dan tifa.

Hai tanah ku Papua,
Kau tanah lahirku,
Ku kasih akan dikau
sehingga ajalku.

Kukasih pasir putih
Dipantaimu senang
Dimana Lautan biru
Berkilat dalam terang.

Kukasih gunung-gunung
Besar mulialah
Dan awan yang melayang
Keliling puncaknja.

Kukasih dikau tanah
Yang dengan buahmu
Membayar kerajinan
Dan pekerjaanku.

Kukasih bunyi ombak
Yang pukul pantaimu
Nyanyian yang selalu
Senangkan hatiku.

Kukasih hutan-hutan
Selimut tanahku
Kusuka mengembara
Dibawah naungmu.

Syukur bagimu, Tuhan,
Kau berikan tanahku
Beri aku rajin djuga
Sampaikan maksudMu.

 “Merdeka! Merdeka! Merdeka!” Spontan diteriakan bersama-sama diakhir lagu, sambil mengantarkan Motte bergegas ke Bandara International Tullamarine, Melbourne. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s