Dari Sabang Sampai MIFEE

Masyarakat Adat Malind Dihancurkan di Merauke

Mahuze berarti Sagu. Alex dan keluarga besar Mahuze bertanggungjawab menjaga keberlangsungan hidup tumbuhan sagu. @2011

Mahuze berarti Sagu. Alex dan keluarga besar Mahuze bertanggungjawab menjaga keberlangsungan hidup tumbuhan sagu. @2011

PEKERJAAN Alex Mahuze adalah menggali pasir Pantai Urum di Merauke. Dorang pakai gerobak kecil. Pasir ditaruh di pinggir jalan untuk dijual. Sudah belasan tahun Mahuse dan ratusan orang Malind gali pasir.

“Dulu itu laut di sana. Sekarang dia sudah mundur sebegitu jauh. Karena dampak ini kita sendiri yang membuat penggalian,” katanya.

“Kenapa saya harus gali pasir? Karena MIFEE membuat saya punya perut ini lapar!”

“MIFEE itu datang hanya untuk menghancurkan saya. Sedangkan dia itu datangkan orang dari luar untuk mengolah tanah itu. Baru saya sendiri mau apa? Ini yang saya rasa kecewa. Kalau bisa MIFEE tidak boleh diadakan.”

Ini perasaan jamak orang Malind, penduduk asli Merauke.

MIFEE adalah proyek raksasa. Singkatan, Merauke Intergrated Food and Energy Estate. Ratusan ribu hektar hutan dan tanah adat diubah jadi perkebunan-perkebunan kelapa sawit, sawah, ladang dan lain-lain. Orang-orang Malind menolak pelaksanaan program MIFEE karena mereka tidak diajak bicara. Ia hanya disepakati antara perusahaan-perusahaan Indonesia, termasuk Group Rajawali dan Group Medco, dengan pemerintah pusat dan daerah.

Protes Alex Mahuze ada dalam film “Ironic Survival” dengan sutradara Deonggat Moiwend. Moiwend sendiri berasal dari Kampung Semangga, Merauke. “Ironic Survival” adalah satu dari beberapa film buatan orang Papua.

Pada 8 Juli 2010, masyarakat adat di Merauke membuat pertemuan Dewan Adat Wilayah V: Ha-Anim. Ketua Stanislaus Gebze dan sekretaris Johanes Wob. Hasilnya, mereka mengirim surat penolakan dan pembatalan MIFEE. Surat dikirimkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan lampiran dokumentasi seluruh proses transaksi dan berita acara.

Mereka menolak MIFEE dengan menimbang tiga persoalan: sosial, adat budaya, dan kepribadian. Wilayah Ha-Anim terdiri dari empat kabupaten dengan suku-sukunya: (1) Kabupaten Merauke terdiri dari suku Malind, Kanume, Marori, Yeinan, Makleu, dan Kima-Khimah; (2) Kabupaten Mappi terdiri dari suku Auyu, Yaghai, Wiyaghar, Tamanyo dan Kau; (3) Kabupaten Asmat terdiri dari suku Asmat Tengah ke-12 Far; (4) Kabupaten Boven Digoel yang terdiri dari suku Muyu, Wambon, Wanggom, Kombai dan Korowai.

Setiap nama marga Wilayah Ha-Anim memiliki kaitan dengan alam. Marga “Mahuze” berarti sagu.

“Sagu ini makanan utama untuk kita orang Papua. Seluruhnya! Nomor satu makan ini sudah,” kata Alex Mahuze.

Dalam sistem ekologi tradisional Malind, setiap marga punya tanggungjawab tradisional untuk menjaga kelestarian flora atau fauna tertentu. Marga Gebze, punya tanggungjawab menjaga kelestarian kelapa. Mahuze, menjaga kelestarian sagu dan anjing. Basik-basik menjaga kelestarian babi hutan. Samkakai, menjaga kelestarian kanguru. Balagaize, menjaga kelestarian buaya. Kaize, menjaga kelestarian kayi, sejenis burung kasuari. Ndiken, menjaga kelestaran burung ndik. Yolmen menjaga kelestarian burung elang. MIFEE membuat hancur semua upaya pelestarian flora dan fauna di Merauke.

Kini kelompok Sinar Mas hendak menanam sawit di Kab. Merauke. Kelompok Korindo ingin melebarkan sayap dari Kab. Boven Digoel ke Kab. Merauke.

Merauke dan Indonesia

Nama “Merauke” punya makna khusus untuk nasionalisme Indonesia. Pada 1962, Kapten Benny Moerdani memimpin Operasi Naga ke daerah Merauke. Ia langkah awal “merebut” Irian Barat dari Belanda. Penyerbuan berakhir dengan New York Agreement pada Agustus 1962 dimana Amerika Serikat, menekan Belanda serahkan Papua ke Indonesia.

Sejak awal 1970an, dengan bantuan World Bank, Indonesia mendirikan koloni-koloni di Merauke lewat program transmigrasi. Ratusan ribu transmigran Jawa didatangkan ke Merauke. Kini transmigrasi dilanjutkan dengan MIFEE. Orang Malind tak diajak bicara, sejak zaman Benny Moerdani hingga zaman MIFEE.

“Tidak ada informasi yang datang. Ketemu dengan ketua adat, atau kepala kampung, RT di kampung atau dengan tua-tua. Tidak tahu sama sekali. Hanya dia datang dan kita kaget dan dia sudah buka lokasi,” kata Mahuze.

Perusahaan-perusahaan telah mengkapling-kapling lahan masyarakat adat setempat. Beberapa hektar hutan sagu dibabat habis. Lahan hutan sagu telah diubah menjadi lahan persawahan dan perkebunan jagung. Orang Malind tak bisa memakai lahan mereka. Para transmigran dan buruh dari Indonesia bekerja di kebun-kebun MIFEE. Orang Malind terpaksa menggali pasir.

Peta investasi perusahan-perusahan dalam program MIFEE, 2010

Peta investasi perusahan-perusahan dalam program MIFEE, 2010

Tahun 2008, dua perusahaan, PT Bangun Cipta Sarana dan PT. Muting Jaya Lestari, resmi beroperasi di Kampung Semangga dimana Deonggat Moiwend tinggal. Asalnya? Surat izin pemerintah Merauke, SK No. 97 tanggal 28 Mei 2008. PT Bangun Cipta Sarana menggunakan lahan seluas 14. 000 hektar. PT. Muting Jaya Lestari dengan SK No. 171 tanggal 4 Agustus 2008 menggunakan lahan seluas 3.000 ha.

Kedua perusahaan termasuk dalam 36 perusahaan yang telah mengantongi izin pemerintah Indonesia untuk ikut MIFEE. Total lahan yang disediakan pemerintah untuk para investor seluas 2.051.157 hektar.

Artinya, hampir seluruh kota Merauke hingga ke kampung-kampung dikuasai MIFEE. Indonesia hanya memerlukan Merauke untuk diambil lahannya. Indonesia tak memerlukan orang Malind. Mungkin ada baiknya slogan, “Dari Sabang Sampai Merauke” diganti saja, “Dari Sabang Sampai MIFEE.”

 *Tulisan ini pernah dimuat di surat kabar Sinar Harapan, Jakarta, Indonesia, Januari 2012. 
 
 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s