Perjuangan Waria Merebut Pengakuan

Sudah bukan waktunya lagi korban dan saksi disogok dengan uang supaya mereka berhenti berjuang. 

Mami Yuli menunjukan form pendaftarannya sebagai calon anggota LPSK.

Mami Yuli menunjukan form pendaftarannya sebagai calon anggota LPSK. Photo by Yulan Kurima Meke, 2013

Bulu mata palsu Mami Yuli terayun-ayun ketika mata bulatnya berkejap-kejap. Ia memang tampil modis siang itu. 

Celana panjang dan semi-jas warna cokelat dengan kemeja putih membalut tubuhnya. Sepatunya pantovel hitam dengan ujung terbuka dan tas tangan kemerahan. Dipermanis lagi dengan kalung keemasan bermotif burung merak yang mengeluarkan cahaya keemasan.

Ia, yang bernama lengkap Yulianus Rettoblaut (52), bersama tujuh rekannya memang “niat” dandan. Malah, teman-temannya yang juga waria atau transgender ada yang memakai kebaya, sanggul dan sandal jinjit (high heels). Maklum, sehari sebelumnya merupakan Hari Kartini.

“Mami Yuli…,” wartawan menyapa seseorang berambut tergerai sebahu yang membawa tas tangan kemerahan, berjalan berombongan.

“Hai…,” sahut pemilik bibir berlipstik merah itu.

Di Gedung Perintis Proklamasi, di mana kantor Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) berada, mereka hendak menuju, Senin (22/4) siang.

Beberapa lembar kertas di dalam sebuah amplop cokelat dibawanya, di antaranya fotokopi ijazah Strata 1 (S-1) atas nama Yulianus Rettoblaut dari Universitas Attahiriyah tahun kelulusan 2010. Ada juga surat keterangan sehat serta surat keterangan tidak terlibat dalam kasus kekerasan dan pelanggaran HAM.

Rintik-rintik gerimis jatuh dari langit, tak menyurutkan langkah mereka untuk bergegas menuju lantai 2. Hari itu merupakan hari pembukaan pendaftaran calon anggota LPSK. Itu merupakan kali ketiga bagi Mami Yuli mendaftarkan diri. Sebelumnya, sudah dua kali ia mendaftarkan diri sebagai anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), namun gagal.

Bagi Mami Yuli tak ada kata menyerah dalam membela hak-hak kaum minoritas dan masyarakat umum lain yang menjadi korban dan saksi dalam berbagai kasus. Meskipun diakui, selama ini banyak korban dan saksi yang diancam terutama dari kalangan minoritas seperti Mami Yuli.

“Aku melihat penegakan hukum dan HAM di Indonesia masih banyak kendala,” ujar pemilik suara bariton ini.

Dia lantas berkisah, banyak waria tidak berani menjadi saksi bahkan sekalipun menjadi korbannya, hanya karena diancam saat suatu perkara dilaporkan ke aparat penegak hukum. Akibatnya, banyak kasus kekerasan terhadap waria dan kelompok lesbian, gay, biseks dan transgender (GLBT) tidak diproses sesuai undang-undang tentang perlindungan hak dasar warga negara.

Setelah kasus dilaporkan, mereka takut melanjutkan proses penyelidikan karena mendapat ancaman dari pihak-pihak tertentu. Akhirnya kasus-kasus itu hilang begitu saja.

Oleh karena itu, Mami Yuli berharap tidak ditolak lagi dalam pendaftaran di LPSK. Ia memang pernah dua kali gagal mendaftar menjadi komisioner Komnas HAM tahun 2007 dan 2012. Pada 2007 dia gagal pada tahap fit and proper test, sedangkan pada 2012 gagal pada tes kesehatan.

“Kali ini berharap bisa diterima, apalagi saya sudah memenuhi persyaratan yang diminta. Dilengkapi dua rekomendasi dari Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (LBHI) dan Yayasan Arus Pelangi,” ucapnya.

“Teman-teman LGBT, jangan takut! Kita juga punya hak yang sama dengan warga negara lain. Ada lembaga yang akan menolong kita,” pesan Ketua Forum Komunikasi Waria se-Indonesia itu.

Ia juga menegaskan bahwa sekarang bukan waktunya lagi korban dan saksi bisa disogok dengan uang agar terintimidasi dan berhenti berjuang. Berdasarkan Pancasila dan UUD ’45 setiap warga negara mempunyai hak untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak.

Tidak ada yang mengatakan ‘kecuali penyandang tunasusila atau transgender atau lainnya’,” kata Mami Yuli, Sarjana Ilmu Hukum Universitas Islam Attahiriyah ini.

Mami Yuli mengakui banyaknya pelanggaran HAM yang dilakukan berbagai pihak terhadap LGBT adalah alasannya untuk mendaftarkan diri di LPSK. Namun, misinya tidak hanya membantu kaum LGBT, melainkan juga menolong masyarakat luas. Ia tidak peduli dengan anggapan masyarakat umum yang suka mencemooh keberadaan LGBT.

Banyak Dukungan

Upaya Mami Yuli mendaftar ke LSPK didukung banyak pihak, di antaranya Miss Waria Berbudaya Se-Indonesia, Elma.

“Harapan aku kalau diterima, tidak ada diskriminasi lagi untuk waria karena kami juga bayar pajak,” katanya.

Mbak Elma–biasa ia dipanggil–bermimpi keberadaan komunitasnya diterima masyarakat luas. Tapi, ia tak berharap banyak pada pemerintah.

Yang lain, Mbak Mumun (67), juga mengaku senang atas usaha Mami Yuli. Baginya, penolakan dari keluarga sudah cukup menyakitkan. Sementara itu, untuk mengubah penampilan fisik bisa saja dilakukan, tapi memberatkan jiwanya.

“Adanya waria didemo. Kita sedih. Kita ingin seperti orang biasa, bisa bekerja di tempat publik,” ungkap Mbak Mumun yang sudah ditolak keluarganya sejak kecil.

Ia menceritakan, saat berusia 13 tahun pernah direndam dalam lumpur karena memiliki sifat yang halus dan berperilaku manis, meski secara fisik pria; maka hingga sekarang ia memilih hidup sendiri tanpa mengganggu keluarganya.

Kepala Bagian Program Arus Pelangi, Widodo Budidarmo, turut memberikan dukungan sekaligus merekomendasikan Mami Yuli masuk menjadi anggota LSPK. Menurut Widodo yang sudah sering berupaya melakukan advokasi hukum bagi korban, mengaku menghadapi kendala ketika tidak ada satu pun korban mau menjadi saksi sehingga banyak kasus tidak selesai.

Dua peristiwa yang belum selesai adalah penembakan waria oleh polisi pada 2012 di Jalan Purworejo, Menteng, Jakarta Pusat tahun 2012 dan penganiayaan waria oleh 20 anggota polisi dengan cara dikencingi di Jakarta Selatan.

Tenaga Ahli LPSK, Maharani Siti Shopia menegaskan, penerimaan calon anggota LPSK periode 2013-2018 terbuka bagi setiap warga negara Indonesia tanpa memandang gender. “Nggak ada syarat soal gender,” tegasnya.

Segala persyaratan sudah dipenuhi Mami Yuli. Proses pendaftaran akan dilanjutkan dengan seleksi adiministrasi. Bagi yang lolos, akan mengikuti seleksi makalah kemudian wawancara. Hasilnya akan diambil 21 calon anggota kemudian berkasnya diserahkan kepada presiden. Setelah disaring menjadi 14 orang akan diserahkan ke DPR hingga menghasilkan tujuh orang yang kemudian dibentuk menjadi board LPSK. Tujuh orang itu nantinya mengisi posisi pemimpin, ketua, wakil ketua, dan anggota.

Semoga perjuangan Mami Yuli tak sia-sia, ia menjadi saksi bahwa transgender pun layak memperoleh hak yang sama di negeri ini.

Advertisements

One thought on “Perjuangan Waria Merebut Pengakuan

  1. halo, selamat malam kak..
    saya sudah membaca posting kakak mengenai mami yuli.. apa boleh saya mengetahui cara menghubungi beliau?

    terima kasih banyak 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s