Ahok dan Kerusakan Lingkungan di Kota Kelahirannya

Areal bekas penambangan timah di Belitung Timur
Bopeng-bopeng yang ada menjadi saksi bisu kerusakan alam akibat penambangan timah.

LIBURAN pulang ke kota kelahiran selalu menjadi saat yang dinanti-nanti. Inilah yang dirasakan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, yang kini menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta, ketika akhir pekan kemarin pulang kampung ke Belitung.

“Hampir setahun nggak pernah pulang kampung. Ini pertama kali setelah itu (terpilih sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta),” kata Ahok yang lahir di Manggar, Belitung Timur, pada 29 Juni 1966.

Selama berlibur dua hari, Sabtu (14/9) dan Minggu (15/9), Ahok menanggalkan jabatannya sebagai orang nomor dua di Jakarta dan beralih menjadi “tour guide” para wartawan yang diundangnya. SH beruntung menjadi salah satu dari 30 wartawan Balai Kota DKI Jakarta yang diajak pulang kampung oleh Ahok.

20130914_184344Selama ini, apalagi sejak film Laskar Pelangi dibuat, Belitung kesohor sebagai pulau kaya timah serta keindahan pantai dan lautnya. Benar saja, sebelum pesawat mendarat, panorama lautan dengan gradasi warna hijau dan biru begitu cantik, seolah menyambut hangat setiap orang yang datang.

Keindahan lautan terlihat sejauh mata memandang, dari warna hijau muda, toska, hingga biru tua. Dari antara pepohonan hijau, terlihat jelas lubang-lubang galian timah dalam berbagai ukuran. Banyak di antaranya yang menyerupai danau-danau berisi air biru muda, kecil, sedang hingga berukuran besar.

Setelah mendarat dan meneruskan perjalanan melalui darat, pemandangan indah nan eksotis tadi berubah menjadi pemandangan miris ketika SH melihat dari dekat sisa-sisa penambangan timah. Bopeng-bopeng yang ada di dataran Belitung menjadi saksi bisu kerusakan alam akibat penambangan timah.

Kolong timah yang ditinggalkan oleh para penambang menjadi areal yang tidak bisa difungsikan untuk apa pun. Jika ingin mereklamasinya diperlukan dana yang sangat banyak dan waktu hingga puluhan bahkan ratusan tahun.

Beberapa perusahaan yang mendapatkan izin penggunaan kawasan hutan untuk penambangan timah di Kepulauan Belitung hingga Maret 2012, antara lain adalah PT Tambang Timah, PT Mundu Cirebon Mining, PT Mitrayasa Sarana Informasi, PT Koba Tin, CV Guardian Sejahtera, dan PT Aditya Buana Inter.

Jauh sebelum novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata melambungkan nama Belitung, pulau ini telah lebih dahulu dikenal dunia lewat kitab klasik China, Hsing–cha Sheng-lan yang ditulis pada 1436.

Kitab ini menjelaskan bahwa Belitung merupakan sebuah wilayah dengan tradisi unik, pemilik pemandangan indah berupa sunggai-sungai, dan pemilik tanah datar. Namun sejak timah ditemukan, Pulau Belitung menjadi incaran banyak bangsa. Aktivitas penambangan mulai dilakukan.

Usai masa pendudukan Belanda, pertambangan di Belitung dan Bangka diambil alih oleh pemerintah Indonesia dan dikelola oleh PT Timah Tbk. Saat ini, PT Timah tidak lagi beroperasi, tapi kerusakan lingkungan sudah kadung terjadi. Kini, lokasi itu berganti menjadi pertambangan rakyat.

Program Reklamasi

Ahok yang juga mantan Bupati Belitung Timur itu menuturkan ia pernah mengadakan program penanaman pohon di sekitar penambangan timah untuk memperbaiki kerusakan lingkungan. Alhasil di sebagian tempat, bisa ditemui pepohonan jenis akasia dan sengon.

“Di sini tanam akasia dan sengon, bagus. Cepat tumbuhnya,” kata Ahok.

Namun ia mengakui masih banyak kawasan bekas penambangan yang belum direklamasi. Peraturan Daerah (Perda) Belitung yang memberikan uang jaminan Rp 1 juta, dinilai Ahok sebagai langkah yang tak tepat. “Ini kesalahan Perda Reklamasi murah Rp 1 juta lebih. Uang jaminan lebih baik disita saja. Perda masalah di DPRD,” sahutnya.

20130914_173032Kini pekerjaan rumah yang dulu diemban Ahok dilanjutkan oleh sang adik, Yuyu – sapaan akrab Bupati Belitung Timur, Basuri Tjahaja Purnama. Ada tiga sektor unggulan guna memperbaiki dan mengembangkan kawasan pulau Belitung, yakni pariwisata; kelautan, perikananan dan kehutanan; serta perkebunan, pertanian dan peternakan terpadu.

Untuk memenuhi ketiga sektor tadi, program reklamasi menjadi kebutuhan mendesak saat ini. Belajar dari pengalaman sebelumnya, Yuyu berkonsultasi dan bekerja sama dengan akademikus dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Kerja sama tersebut menghasilkan sebuah riset terkait penggunaan jenis tumbuhan yang tepat untuk program reklamasi di kawasan daratan berkapur itu.

Dari hasil riset ini, cemara menjadi jenis tumbuhan yang tepat ditanami di kawasan bekas penambangan timah itu. Cemara memiliki nilai lebih, yaitu membutuhkan waktu lebih sedikit untuk tumbuh dan menghasilkan nitrogen yang dapat dijadikan pupuk organik dari akarnya. Cemara juga memiliki nilai ekonomis tinggi karena tak membutuhkan perawatan khusus.

“Hasilnya sudah ada bahwa bukan sengon yang tepat, tapi cemara-cemara ini,” ucap Yuyu, seraya menunjuk pohon-pohon cemara di sekitar Pantai Serdang, Manggar. “Karena akarnya menangkap nitrogen di udara jadi pupuk organik. Saya lagi tanya, apakah arang cemara ini bisa diekspor atau tidak. Kalau jadi, kita tanam cemara dan tidak perlu pemeliharaan,” ia menambahkan.

India menjadi salah satu negara yang memanfaatkan penanaman cemara untuk menghasilkan tenaga listrik.

Padahal, biaya perawatan di negeri Bollywood itu terbilang ekstra dan membutuhkan waktu hingga dua tahun untuk pertumbuhan optimal. Untuk jenis yang sama, kata Yuyu, Belitung hanya membutuhkan waktu enam bulan. Untuk tahap awal, program reklamasi tersebut akan dilakukan pada lahan seluas 40.000 hektare.

Meskipun begitu, ia menyadari untuk mendapatkan hasil maksimal, reklamasi membutuhkan waktu tak sebentar. Yuyu yang masih dua tahun lagi menjabat itu khawatir program ini tak berlanjut jika dia tak terpilih lagi dalam pemilihan kepala daerah 2015.

“Semua kembali ke masyarakat. Saya kan CEO-nya, masyarakat komisaris saya. Apakah mereka merasa diuntungkan atau tidak. Kalau merasa diuntungkan dan beri kesempatan (lagi), saya akan melanjutkan sampai 2020,” sahut Yuyu. ***

(http://www.shnews.co/detile-25090-kampung-ahok-butuh-reklamasi.html)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s