Bapakku bukan Perekayasa Konflik

Aksara Jiwa

Senin malam, 25 Pebruari 2012, saya membaca mention di twitter tentang berita Cak Imin yang akan mendirikan monumen GusDur di Singkawang, Kalimantan. Kota yang banyak dihuni saudara sebangsa berdarah Tionghoa, yang tentu saja sangat menghormati Gus Dur. Walau saya mempertanyakan apakah kiranya sebagai orang yang substantif dan tidak suka seremoni, Bapak suka dibuatkan monumen; bukan soal itu yang mengganggu batin saya. Sudah beberapa waktu terakhir ini, saya ingin menulis tentang Bapak dan konflik PKB cak Imin dari kacamata saya sebagai anak. Tulisan ini adalah kegelisahan saya atas narasi yang semakin sering saya dengar dari mulut dan tulisan orang-orang PKB Cak Imin.

Pertama kali, saya mendengarnya langsung dari seorang politisi PKB Cak Imin, saat ia meminta saya untuk menjembatani PKB Cak Imin dengan keluarga Ciganjur. Sebelumnya, saya sudah beberapa kali didekati untuk menjadi jembatan ishlah, tetapi narasi ini belum pernah saya dengar. Sejak itu, saya mulai banyak mendengarnya dari orang-orang lain…

View original post 1,256 more words

Advertisements

Dari Sabang Sampai MIFEE

Masyarakat Adat Malind Dihancurkan di Merauke

Mahuze berarti Sagu. Alex dan keluarga besar Mahuze bertanggungjawab menjaga keberlangsungan hidup tumbuhan sagu. @2011
Mahuze berarti Sagu. Alex dan keluarga besar Mahuze bertanggungjawab menjaga keberlangsungan hidup tumbuhan sagu. @2011

PEKERJAAN Alex Mahuze adalah menggali pasir Pantai Urum di Merauke. Dorang pakai gerobak kecil. Pasir ditaruh di pinggir jalan untuk dijual. Sudah belasan tahun Mahuse dan ratusan orang Malind gali pasir.

“Dulu itu laut di sana. Sekarang dia sudah mundur sebegitu jauh. Karena dampak ini kita sendiri yang membuat penggalian,” katanya.

“Kenapa saya harus gali pasir? Karena MIFEE membuat saya punya perut ini lapar!”

“MIFEE itu datang hanya untuk menghancurkan saya. Sedangkan dia itu datangkan orang dari luar untuk mengolah tanah itu. Baru saya sendiri mau apa? Ini yang saya rasa kecewa. Kalau bisa MIFEE tidak boleh diadakan.”

Ini perasaan jamak orang Malind, penduduk asli Merauke.

MIFEE adalah proyek raksasa. Singkatan, Merauke Intergrated Food and Energy Estate. Ratusan ribu hektar hutan dan tanah adat diubah jadi perkebunan-perkebunan kelapa sawit, sawah, ladang dan lain-lain. Orang-orang Malind menolak pelaksanaan program MIFEE karena mereka tidak diajak bicara. Ia hanya disepakati antara perusahaan-perusahaan Indonesia, termasuk Group Rajawali dan Group Medco, dengan pemerintah pusat dan daerah.

Protes Alex Mahuze ada dalam film “Ironic Survival” dengan sutradara Deonggat Moiwend. Moiwend sendiri berasal dari Kampung Semangga, Merauke. “Ironic Survival” adalah satu dari beberapa film buatan orang Papua.

Pada 8 Juli 2010, masyarakat adat di Merauke membuat pertemuan Dewan Adat Wilayah V: Ha-Anim. Ketua Stanislaus Gebze dan sekretaris Johanes Wob. Hasilnya, mereka mengirim surat penolakan dan pembatalan MIFEE. Surat dikirimkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan lampiran dokumentasi seluruh proses transaksi dan berita acara.

Mereka menolak MIFEE dengan menimbang tiga persoalan: sosial, adat budaya, dan kepribadian. Wilayah Ha-Anim terdiri dari empat kabupaten dengan suku-sukunya: (1) Kabupaten Merauke terdiri dari suku Malind, Kanume, Marori, Yeinan, Makleu, dan Kima-Khimah; (2) Kabupaten Mappi terdiri dari suku Auyu, Yaghai, Wiyaghar, Tamanyo dan Kau; (3) Kabupaten Asmat terdiri dari suku Asmat Tengah ke-12 Far; (4) Kabupaten Boven Digoel yang terdiri dari suku Muyu, Wambon, Wanggom, Kombai dan Korowai.

Setiap nama marga Wilayah Ha-Anim memiliki kaitan dengan alam. Marga “Mahuze” berarti sagu.

“Sagu ini makanan utama untuk kita orang Papua. Seluruhnya! Nomor satu makan ini sudah,” kata Alex Mahuze.

Dalam sistem ekologi tradisional Malind, setiap marga punya tanggungjawab tradisional untuk menjaga kelestarian flora atau fauna tertentu. Marga Gebze, punya tanggungjawab menjaga kelestarian kelapa. Mahuze, menjaga kelestarian sagu dan anjing. Basik-basik menjaga kelestarian babi hutan. Samkakai, menjaga kelestarian kanguru. Balagaize, menjaga kelestarian buaya. Kaize, menjaga kelestarian kayi, sejenis burung kasuari. Ndiken, menjaga kelestaran burung ndik. Yolmen menjaga kelestarian burung elang. MIFEE membuat hancur semua upaya pelestarian flora dan fauna di Merauke.

Kini kelompok Sinar Mas hendak menanam sawit di Kab. Merauke. Kelompok Korindo ingin melebarkan sayap dari Kab. Boven Digoel ke Kab. Merauke.

Merauke dan Indonesia

Nama “Merauke” punya makna khusus untuk nasionalisme Indonesia. Pada 1962, Kapten Benny Moerdani memimpin Operasi Naga ke daerah Merauke. Ia langkah awal “merebut” Irian Barat dari Belanda. Penyerbuan berakhir dengan New York Agreement pada Agustus 1962 dimana Amerika Serikat, menekan Belanda serahkan Papua ke Indonesia.

Sejak awal 1970an, dengan bantuan World Bank, Indonesia mendirikan koloni-koloni di Merauke lewat program transmigrasi. Ratusan ribu transmigran Jawa didatangkan ke Merauke. Kini transmigrasi dilanjutkan dengan MIFEE. Orang Malind tak diajak bicara, sejak zaman Benny Moerdani hingga zaman MIFEE.

“Tidak ada informasi yang datang. Ketemu dengan ketua adat, atau kepala kampung, RT di kampung atau dengan tua-tua. Tidak tahu sama sekali. Hanya dia datang dan kita kaget dan dia sudah buka lokasi,” kata Mahuze.

Perusahaan-perusahaan telah mengkapling-kapling lahan masyarakat adat setempat. Beberapa hektar hutan sagu dibabat habis. Lahan hutan sagu telah diubah menjadi lahan persawahan dan perkebunan jagung. Orang Malind tak bisa memakai lahan mereka. Para transmigran dan buruh dari Indonesia bekerja di kebun-kebun MIFEE. Orang Malind terpaksa menggali pasir.

Peta investasi perusahan-perusahan dalam program MIFEE, 2010
Peta investasi perusahan-perusahan dalam program MIFEE, 2010

Tahun 2008, dua perusahaan, PT Bangun Cipta Sarana dan PT. Muting Jaya Lestari, resmi beroperasi di Kampung Semangga dimana Deonggat Moiwend tinggal. Asalnya? Surat izin pemerintah Merauke, SK No. 97 tanggal 28 Mei 2008. PT Bangun Cipta Sarana menggunakan lahan seluas 14. 000 hektar. PT. Muting Jaya Lestari dengan SK No. 171 tanggal 4 Agustus 2008 menggunakan lahan seluas 3.000 ha.

Kedua perusahaan termasuk dalam 36 perusahaan yang telah mengantongi izin pemerintah Indonesia untuk ikut MIFEE. Total lahan yang disediakan pemerintah untuk para investor seluas 2.051.157 hektar.

Artinya, hampir seluruh kota Merauke hingga ke kampung-kampung dikuasai MIFEE. Indonesia hanya memerlukan Merauke untuk diambil lahannya. Indonesia tak memerlukan orang Malind. Mungkin ada baiknya slogan, “Dari Sabang Sampai Merauke” diganti saja, “Dari Sabang Sampai MIFEE.”

 *Tulisan ini pernah dimuat di surat kabar Sinar Harapan, Jakarta, Indonesia, Januari 2012. 
 
 

Bezoek Tapol RMS

Photo by Yulan Kurima Meke @ 2010, Rumah Tanahan Waiheru, Ambon.

AGUSTUS lalu saya beruntung dapat kesempatan bertemu dengan tapol Republik Maluku Selatan di tiga penjara Jawa: Malang, Kediri, dan Porong. Saya tahu ada tiga penjara lagi dimana tapol RMS dikerangkeng: Nusa Kambangan (Kembang Kuning dan Pasir Putih) dan Semarang. Ini kunjungan kemanusiaan. Saya biasa bantu tapol dengan obat, bacaan dan makanan.

Mulanya, saya bertemu dengan Johan Teterisa (48) di penjara Lowokwaru Malang. Saya bawa kopi, biskuit Tango, beberapa bungkus Indomie, dan bacaan rohani “Renungan Harian.” Saya diminta mengisi nama tahanan dan lama masa penahanan. Tas saya diperiksa. Handphone dan kamera ditahan.

Seorang petugas perempuan memeriksa badan saya, meraba-raba dari kaki hingga punggung. Hanya tas dan dompet yang diperbolehkan masuk, termasuk makanan dan minuman, untuk Teterisa dan lima kawan dia.

Saya menunggu Teterisa di ruang tunggu. Mereka berenam tiba. Seragam kaos berkerah warna biru tua dengan tulisan “Tahanan Lembaga Pemasyarakatan Ambon.”

Saya tanya soal kesehatan. Saya juga tanya soal keluarga mereka yang ditinggal di kampung Aboru, Pulau Haruku. Mereka cerita soal sakit kepala, bekas siksaan ketika ditahan pada pertengahan 2007 di Polda Maluku.

Teterisa termasuk satu dari 37 tapol RMS yang dipenjara di Pulau Jawa. Kesalahan mereka? Mengibarkan bendera RMS dengan upacara atau melepas balon ke udara.

Teterisa adalah pemimpin dari 28 penari cakalele, mengibarkan bendera, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono datang ke stadion Ambon pada 29 Juni 2007. Pengadilan Ambon menghukum dia seumur hidup dengan pasal makar tuduhan pasal 106 dan 110 KUHP. Belakangan hukuman diturunkan jadi 15 tahun.

Di Ambon, hampir semua penangkapan aktivis tanpa surat penahanan dan mereka diperlakukan dengan kasar. Menurut beberapa tapol, polisi bawa mereka ke Detasemen Khusus 88 Ambon untuk interogasi. Lamanya pemeriksaan bervariasi, mulai dari 3 hingga 14 hari.

Kayu, besi, pipa, rokok, bola bilyard, adalah alat yang digunakan untuk menyiksa mereka. Mereka juga dihina. Diminta telanjang hingga celana dalam dan merangkak di jalan umum. Setelah dua minggu, mereka dipindahkan ke tahanan Ambon, lalu menjalani persidangan dan vonis hukuman.

“Kami tidak melakukan kekerasan dalam aksi yang kami lakukan. Kami menuntut kepada pemerintah Republik Indonesia untuk berlaku adil dan jujur terhadap petugas polisi yang melakukan kekerasan kepada kami ,” kata Teterisa. Continue reading “Bezoek Tapol RMS”

Mama-mama Pasar

Mama-mama Pasar

Mama-mama pedagang asli Papua tuntut Segera realisasikan pasar traditional, Jayapura

Jakarta – Buku catatan bergaris itu sa buka lagi setelah setahun tertutup. Warnanya masih tetap sama seperti dulu, putih. Namun, sedikit terasa kasar ditangan saat sa pegang dan buka.

“Ahsim… ashim… .”

Sa langsung bersin-bersin. Barangkali karena debu yang tra kelihatan itu beterbangan, masuk ke sa pu hidung.

Isi buku catatan itu masih utuh. Tulisan seperti cakar ayam. Itu sebutan yang biasa sa dengar saat masih duduk dibangku sekolah dasar dua puluh tahun lalu.

Sa buka perlembar. Sa baca dan mengingat kembali saat peristiwa itu terjadi, peristiwa catat-mencatat. Waktunya setahun lalu, 2010.  Tanggal dan harinya bervariasi.

Continue reading “Mama-mama Pasar”