Film Lost In Papua Berpotensi menebalkan rasa tidak percaya masyarakat Papua terhadap pembuat film asal Indonesia

Film Lost In Papua  Berpotensi menebalkan rasa tidak percaya masyarakat Papua terhadap pembuat film asal Indonesia


Photo by http://www.koranjitu.com

LOST In Papua sebuah film baru karya Irham Acho Bachtiar bercerita tentang sebuah suku di Papua. Aktor Fauzi Baadilah berperan sebagai David. Dia diculik dan ditahan oleh “suku Korowai” dan diperkosa oleh 16 perempuan Korowai. Suku ini digambarkan sebagai “suku terasing” di hutan terlarang, semuanya perempuan, sehingga David dijadikan sapi pejantan.

Aktris Jakarta adalah Fanny Febriani. Dia berperan sebagai Nadia yang terpaksa menerima tugas dari atasan ke Papua dan mengantarkan titipan untuk sebuah suku di pedalaman Papua. Lost In Papua didukung oleh figuran orang asli Papua.

Sebagian besar isi cerita lebih kepada petualangan dan komedi. Sekilas setelah mendengar judul film ini, saya langsung menebak bahwa film ini akan bercerita tentang orang yang tersesat di Papua. Barangkali di tengah hutan rimba Papua. Terlintas dalam pikir tentang keindahan alam Papua. Dan ada juga alam yang telah dirusak oleh orang asing dan meninggalkan masalah bagi orang asli Papua.

Saking penasaran, saya menonton thriller film, membaca sinopsis serta keributan di Facebook beberapa aktivis Papua Barat. Intinya, film ini, ternyata banyak mengandung cerita yang tidak benar dan saya melihat ada unsur rasisme.

Rasialisme pertama. Menurut Fauzi Baadilah kepada Okezone, “Ceritanya itu memang mengangkat penduduk Papua dengan dramanya. Mental lawan main gue itu kan orang setempat yang nggak pernah main film. Jadi tugas gue double, pendekatan psikologis mereka, agar mereka lebih santai.” Orang Papua dianggap tidak pernah main film sehingga terbelakang. Rasialisme begini biasa dalam media Indonesia.

Sekisme kedua. Fauzi juga menceritakan. “Jadi waktu itu ceritanya gue tersesat di daerah Papua. Tiba-tiba gue ketemu suku yang semuanya cewek. Jadi mereka kalau melihat pria hasratnya langsung deh. Cukup kacau juga deh, 16 orang secara bergantian perkosa gue.” Orang Papua memerlukan sapi pejantan dari Jawa. Perempuan Papua digambarkan sebagai perempuan yang lebih baik bisa berhubungan seks dan mendapat “bibit penerus” dari lelaki Jawa. Suku Korowai digambarkan sebagai suku yang hanya terdiri dari kaum perempuan dan juga pemerkosa laki-laki. Ini merendahkan perempuan.

Judul sebah blog menyebutkan, “Korowai: Suku Kanibal Terakhir: Hidup diatas rumah pohon selama berabad-abad di hutan Papua, Korowai lebih dikenal sebagai suku pemakan manusia. Jumlah sukunya terus berkurang akibat perang, penyakit, berkurangnya pohon-pohon besar dan program merumahkan yang dilakukan pemerintah.” http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3992092

Ini tentu tidak benar. Korowai sebuah kelompok etnik yang dulu hidup di pepohonan di daerah Boven Digul. Mereka tentu saja bukan eksklusif perempuan. Banyak lelaki Korowai. Lelaki Korowai adalah salah satu suku di Papua yang tidak memakai koteka. Kaum lelaki suku ini memasukan alat kelamin mereka ke dalam kantong jakar (scrotum) dan pada ujungnya mereka balut ketat dengan sejenis daun.

Kaum perempuan hanya memakai rok pendek terbuat dari daun sagu. Sagu adalah makanan utama mereka. Ulat sagu juga menjadi makanan tambahan yang terlebih dulu dibakar. Untuk menghindari binatang buas dan ancaman perang antar suku, mereka membuat rumah di atas pohon bahkan ada rumah yang mencapai tinggi 40 meter.

Melalui film Lost In Papua, saya kuatir akan muncul banyak interpretasi yang salah terhadap orang Papua. Kesalahan interpretasi terhadap suku Korowai.

Soal anggapan lucu dari Irham Acho Bachtiar bahwa ada “mitos” suku perempuan, dia tampaknya perlu bongkar arsip TV One. Tokoh masyarakat Papua, Yorris Raweyai, pernah melakukan ekspedisi Mamberamo bersama TV One pada pertengahan tahun 2010. Raweyai menjelaskan bahwa suku perempuan tidak ada. Dia bilang ada kesalahan interpretasi terhadap salah satu suku di Mamberamo. Ketika itu ada sekelompok orang yang menuju kampung tersebut, dan karena takut para perempuan mengambil peralatan perang dan mengejar kelompok asing tersebut. Para laki-laki sedang pergi ke kebun dan berburu sehingga tidak tampak laki-laki di kampung tersebut.

Saya kira kejadian ini biasa saja. Di Jawa pun, kalau kaum lelaki pergi, kaum perempuan harus membela diri sendiri bukan? Irham Bachtiar adalah alumnus Institut Kesenian Jakarta, orang Jawa, anak transmigran kelahiran Muting, Merauke. Dia, tentu saja, juga tahu budaya Jawa.

Ada banyak bahan yang bisa digunakan untuk mengangkat nama Papua. Lewat kebudayaan orang asli Papua, yang kaya akan suku, bahasa dan adat istiadat. Atau belajarlah dari Jared Diamond dalam buku best seller New York Times: Guns, Germs and Steel. Diamond bilang bangsa Papua kurang beruntung karena mereka kalah dengan bibit penyakit serta teknologi logam. Namun orang Papua adalah orang cerdas. Ada pula banyak persoalan yang menimpa alam dan orang asli Papua namun belum banyak yang menyuarakan dan mempublikasikan persoalan yang sedang terjadi. Sayang, mata hati Irham Bachtiar tidak terbuka. Pikiran dia juga tertutup.

Dia tidak melihat eksploitasi besar-besaran terjadi di Papua, mulai dari Freeport McMoran hingga Lost in Papua. Hutan kami dirampas. Dijadikan lokasi tambang dan tempat transmigrasi. Ada suku-suku yang tergusur di atas tanah mereka sendiri. Keberagaman adat dan budaya orang asli Papua yang disalahinterpretasikan sehingga menimbulkan pandangan-pandangan yang tidak benar terhadap orang asli Papua.

Pada 1963, ketika Indonesia mengambil alih tanah kami, penduduk Papua ada sekitar satu juta orang dengan sekitar empat persen pendatang. Kini penduduk Papua total 3.9 juta dan pendatang 51 persen. Kami didiskriminasi. Kami dibinasakan di tanah kami sendiri. Kami biasa menerima pendatang. Kami suka dengan banyak pendatang karena mereka perlu tanah. Namun tak semua pendatang berbuat baik. Tampaknya, kebaikan orang Papua menerima orang tua Irham Bachtiar di Merauke dibalas dengan pembuatan film yang keji, kotor dan jahat.

Advertisements

Dari Sabang Sampai MIFEE

Masyarakat Adat Malind Dihancurkan di Merauke

Mahuze berarti Sagu. Alex dan keluarga besar Mahuze bertanggungjawab menjaga keberlangsungan hidup tumbuhan sagu. @2011
Mahuze berarti Sagu. Alex dan keluarga besar Mahuze bertanggungjawab menjaga keberlangsungan hidup tumbuhan sagu. @2011

PEKERJAAN Alex Mahuze adalah menggali pasir Pantai Urum di Merauke. Dorang pakai gerobak kecil. Pasir ditaruh di pinggir jalan untuk dijual. Sudah belasan tahun Mahuse dan ratusan orang Malind gali pasir.

“Dulu itu laut di sana. Sekarang dia sudah mundur sebegitu jauh. Karena dampak ini kita sendiri yang membuat penggalian,” katanya.

“Kenapa saya harus gali pasir? Karena MIFEE membuat saya punya perut ini lapar!”

“MIFEE itu datang hanya untuk menghancurkan saya. Sedangkan dia itu datangkan orang dari luar untuk mengolah tanah itu. Baru saya sendiri mau apa? Ini yang saya rasa kecewa. Kalau bisa MIFEE tidak boleh diadakan.”

Ini perasaan jamak orang Malind, penduduk asli Merauke.

MIFEE adalah proyek raksasa. Singkatan, Merauke Intergrated Food and Energy Estate. Ratusan ribu hektar hutan dan tanah adat diubah jadi perkebunan-perkebunan kelapa sawit, sawah, ladang dan lain-lain. Orang-orang Malind menolak pelaksanaan program MIFEE karena mereka tidak diajak bicara. Ia hanya disepakati antara perusahaan-perusahaan Indonesia, termasuk Group Rajawali dan Group Medco, dengan pemerintah pusat dan daerah.

Protes Alex Mahuze ada dalam film “Ironic Survival” dengan sutradara Deonggat Moiwend. Moiwend sendiri berasal dari Kampung Semangga, Merauke. “Ironic Survival” adalah satu dari beberapa film buatan orang Papua.

Pada 8 Juli 2010, masyarakat adat di Merauke membuat pertemuan Dewan Adat Wilayah V: Ha-Anim. Ketua Stanislaus Gebze dan sekretaris Johanes Wob. Hasilnya, mereka mengirim surat penolakan dan pembatalan MIFEE. Surat dikirimkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan lampiran dokumentasi seluruh proses transaksi dan berita acara.

Mereka menolak MIFEE dengan menimbang tiga persoalan: sosial, adat budaya, dan kepribadian. Wilayah Ha-Anim terdiri dari empat kabupaten dengan suku-sukunya: (1) Kabupaten Merauke terdiri dari suku Malind, Kanume, Marori, Yeinan, Makleu, dan Kima-Khimah; (2) Kabupaten Mappi terdiri dari suku Auyu, Yaghai, Wiyaghar, Tamanyo dan Kau; (3) Kabupaten Asmat terdiri dari suku Asmat Tengah ke-12 Far; (4) Kabupaten Boven Digoel yang terdiri dari suku Muyu, Wambon, Wanggom, Kombai dan Korowai.

Setiap nama marga Wilayah Ha-Anim memiliki kaitan dengan alam. Marga “Mahuze” berarti sagu.

“Sagu ini makanan utama untuk kita orang Papua. Seluruhnya! Nomor satu makan ini sudah,” kata Alex Mahuze.

Dalam sistem ekologi tradisional Malind, setiap marga punya tanggungjawab tradisional untuk menjaga kelestarian flora atau fauna tertentu. Marga Gebze, punya tanggungjawab menjaga kelestarian kelapa. Mahuze, menjaga kelestarian sagu dan anjing. Basik-basik menjaga kelestarian babi hutan. Samkakai, menjaga kelestarian kanguru. Balagaize, menjaga kelestarian buaya. Kaize, menjaga kelestarian kayi, sejenis burung kasuari. Ndiken, menjaga kelestaran burung ndik. Yolmen menjaga kelestarian burung elang. MIFEE membuat hancur semua upaya pelestarian flora dan fauna di Merauke.

Kini kelompok Sinar Mas hendak menanam sawit di Kab. Merauke. Kelompok Korindo ingin melebarkan sayap dari Kab. Boven Digoel ke Kab. Merauke.

Merauke dan Indonesia

Nama “Merauke” punya makna khusus untuk nasionalisme Indonesia. Pada 1962, Kapten Benny Moerdani memimpin Operasi Naga ke daerah Merauke. Ia langkah awal “merebut” Irian Barat dari Belanda. Penyerbuan berakhir dengan New York Agreement pada Agustus 1962 dimana Amerika Serikat, menekan Belanda serahkan Papua ke Indonesia.

Sejak awal 1970an, dengan bantuan World Bank, Indonesia mendirikan koloni-koloni di Merauke lewat program transmigrasi. Ratusan ribu transmigran Jawa didatangkan ke Merauke. Kini transmigrasi dilanjutkan dengan MIFEE. Orang Malind tak diajak bicara, sejak zaman Benny Moerdani hingga zaman MIFEE.

“Tidak ada informasi yang datang. Ketemu dengan ketua adat, atau kepala kampung, RT di kampung atau dengan tua-tua. Tidak tahu sama sekali. Hanya dia datang dan kita kaget dan dia sudah buka lokasi,” kata Mahuze.

Perusahaan-perusahaan telah mengkapling-kapling lahan masyarakat adat setempat. Beberapa hektar hutan sagu dibabat habis. Lahan hutan sagu telah diubah menjadi lahan persawahan dan perkebunan jagung. Orang Malind tak bisa memakai lahan mereka. Para transmigran dan buruh dari Indonesia bekerja di kebun-kebun MIFEE. Orang Malind terpaksa menggali pasir.

Peta investasi perusahan-perusahan dalam program MIFEE, 2010
Peta investasi perusahan-perusahan dalam program MIFEE, 2010

Tahun 2008, dua perusahaan, PT Bangun Cipta Sarana dan PT. Muting Jaya Lestari, resmi beroperasi di Kampung Semangga dimana Deonggat Moiwend tinggal. Asalnya? Surat izin pemerintah Merauke, SK No. 97 tanggal 28 Mei 2008. PT Bangun Cipta Sarana menggunakan lahan seluas 14. 000 hektar. PT. Muting Jaya Lestari dengan SK No. 171 tanggal 4 Agustus 2008 menggunakan lahan seluas 3.000 ha.

Kedua perusahaan termasuk dalam 36 perusahaan yang telah mengantongi izin pemerintah Indonesia untuk ikut MIFEE. Total lahan yang disediakan pemerintah untuk para investor seluas 2.051.157 hektar.

Artinya, hampir seluruh kota Merauke hingga ke kampung-kampung dikuasai MIFEE. Indonesia hanya memerlukan Merauke untuk diambil lahannya. Indonesia tak memerlukan orang Malind. Mungkin ada baiknya slogan, “Dari Sabang Sampai Merauke” diganti saja, “Dari Sabang Sampai MIFEE.”

 *Tulisan ini pernah dimuat di surat kabar Sinar Harapan, Jakarta, Indonesia, Januari 2012. 
 
 

Bezoek Tapol RMS

Photo by Yulan Kurima Meke @ 2010, Rumah Tanahan Waiheru, Ambon.

AGUSTUS lalu saya beruntung dapat kesempatan bertemu dengan tapol Republik Maluku Selatan di tiga penjara Jawa: Malang, Kediri, dan Porong. Saya tahu ada tiga penjara lagi dimana tapol RMS dikerangkeng: Nusa Kambangan (Kembang Kuning dan Pasir Putih) dan Semarang. Ini kunjungan kemanusiaan. Saya biasa bantu tapol dengan obat, bacaan dan makanan.

Mulanya, saya bertemu dengan Johan Teterisa (48) di penjara Lowokwaru Malang. Saya bawa kopi, biskuit Tango, beberapa bungkus Indomie, dan bacaan rohani “Renungan Harian.” Saya diminta mengisi nama tahanan dan lama masa penahanan. Tas saya diperiksa. Handphone dan kamera ditahan.

Seorang petugas perempuan memeriksa badan saya, meraba-raba dari kaki hingga punggung. Hanya tas dan dompet yang diperbolehkan masuk, termasuk makanan dan minuman, untuk Teterisa dan lima kawan dia.

Saya menunggu Teterisa di ruang tunggu. Mereka berenam tiba. Seragam kaos berkerah warna biru tua dengan tulisan “Tahanan Lembaga Pemasyarakatan Ambon.”

Saya tanya soal kesehatan. Saya juga tanya soal keluarga mereka yang ditinggal di kampung Aboru, Pulau Haruku. Mereka cerita soal sakit kepala, bekas siksaan ketika ditahan pada pertengahan 2007 di Polda Maluku.

Teterisa termasuk satu dari 37 tapol RMS yang dipenjara di Pulau Jawa. Kesalahan mereka? Mengibarkan bendera RMS dengan upacara atau melepas balon ke udara.

Teterisa adalah pemimpin dari 28 penari cakalele, mengibarkan bendera, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono datang ke stadion Ambon pada 29 Juni 2007. Pengadilan Ambon menghukum dia seumur hidup dengan pasal makar tuduhan pasal 106 dan 110 KUHP. Belakangan hukuman diturunkan jadi 15 tahun.

Di Ambon, hampir semua penangkapan aktivis tanpa surat penahanan dan mereka diperlakukan dengan kasar. Menurut beberapa tapol, polisi bawa mereka ke Detasemen Khusus 88 Ambon untuk interogasi. Lamanya pemeriksaan bervariasi, mulai dari 3 hingga 14 hari.

Kayu, besi, pipa, rokok, bola bilyard, adalah alat yang digunakan untuk menyiksa mereka. Mereka juga dihina. Diminta telanjang hingga celana dalam dan merangkak di jalan umum. Setelah dua minggu, mereka dipindahkan ke tahanan Ambon, lalu menjalani persidangan dan vonis hukuman.

“Kami tidak melakukan kekerasan dalam aksi yang kami lakukan. Kami menuntut kepada pemerintah Republik Indonesia untuk berlaku adil dan jujur terhadap petugas polisi yang melakukan kekerasan kepada kami ,” kata Teterisa. Continue reading “Bezoek Tapol RMS”

Perang ‘Fisik’ Menjadi Alternatif Terakhir

Perang ‘Fisik’ Menjadi Alternatif Terakhir

Photo by Made Ali, Melbourne October 26, 2011

Richmond— Hari masih terang, meski jam menunjukkan angka pukul 7 malam.

Oktovianus Motte, satu dari lima juru runding dialog antara Jakarta dan Papua, mengatakan bahwa penyelesaian masalah yang terus berlangsung di tanah Papua akan ditempuh dengan jalan Perang Fisik jika tiga langkah lainnya tidak berhasil ditempuh.

“Saya melihat pola yang paling bawah,” ujar Motte menjawab pertanyaan seorang peserta pertemuan yang diselenggarakan oleh aktivis Papua di Richmond, Melbourne pada 26 Okbober lalu.

Kata ‘pola yang paling bawah’ dirujuk pada perlawanan secara fisik yang kini sedang didorong oleh pihak gerilya Papua Merdeka atau biasa disebut kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB).

Tentu, resikonya dengan pertaruhan nyawa. Bisa dipastikan, lebih banyak darah akan membasahi tanah Papua. Darah yang berjuang mendapatkan kemedekaannya dari penjajah baru—Indonesia, maupun darah yang mempertahankan wilayah yang diklaim sebagai miliknya—Indonesia.

Empat tuntutan yang didukung Motte tidak lain merupakan tuntutan empat organisasi/kelompok di Papua maupun luar negri yang sedang ramai dibicarakan.

Pertama; Jaringan Damai Papua (JDP) yang mendorong penyelesaian masalah Papua melalui Dialog antara Jakarta dan Papua bersama Pater DR. Neles Tebay, Pr sebagai Koordinator JDP dan Dr. Muridan S. Widjojo, salah satu anggotanya.

Dalam konsep yang ditawarkan JDP, dialog yang diinginkan antara pihak Papua dan Indonesia dengan melibatkan pihak ketiga yang netral sebagai mediator. Pihak ketiga yang dimaksud adalah pihak international, bisa atas nama negara maupun individu.

Kedua; Menggugat hasil PEPERA 1969, yang sedang didorong oleh anggota Parlemen Inggris seperti Andrew Smith, MP, dan Lord Harries. Sejak tahun 2008, Smith dkk terus berupaya mempengaruhi anggota parlemen Inggris dan pemerintah Ingrris.

Anggota Parlemen Uni Eropa yang dimotori oleh Dr. Lucas Caroline, MEP, Andrew Smith, dkk telah membentuk  International Parliamentary for West Papua (IPWP) di London, Inggris pada 15 Oktober 2008.

Perjuangan untuk menggugat PEPERA 1969 terus ditingkatkan ke tingkat hukum, yakni dengan dibentuknya International Lawyer for West Papua (ILWP) pada 2 – 5 April 2009 di Guyana, Amerika Serikat.

Ketiga; Mendorong tuntutan KNPB  yaitu Referendum, dibawah pimpinan Buctar Tabuni yang berpusat di Jayapura. Dan, keempat; adalah dukungan terakhir yang diberikan Motte, yakni Perang yang dipimpin oleh masing-masing komandan TPNPB yang tersebar diseluruh wilayah Papua.

Motte dan empat juru runding lainnya—Benny Wenda, Otto Ondawame, Leonie Tanggahma, Rex Rumakiek—terpilih dalam Konferensi Papua Damai bertemakan “Mari Kitong Bikin Papua jadi Tanah Damai” yang diselenggarakan oleh JDP selama tiga hari, yaitu 5 – 7 Juli 2011 di Auditorium Universitas Cendrawasih, Jayapura.

Sebagai juru runding dialog yang ditunjuk dalam konferensesi yang diselenggarakan oleh JDP, Motte mengawali pertemuan malam itu dengan sampaikan maksud perjalanannya ke Negeri Kangguru dan beberapa negara Pacific.

“…untuk promosikan proses dialog…” ujar pria bertubuh kecil dan berkacamata minus. Merespon kerja yang dilakukan utusan presiden Indonesia dalam mefasilitasi penyelenggaraan dialog, menurut Motte yang juga mantan wartawan Kompas, pemerintah Indonesia telah salah dalam mengartikan kata Dialog tersebut.

Sambungnya, dialog yang diharapakan orang Papua adalah kedua belah pihak duduk bersama dalam satu level sebagai suatu bangsa dan tentu dengan dimediasi oleh pihak ketiga yang netral, yakni melibatkan pihak international. Bukan memberikan sesuatu yang tidak diminta orang Papua.

Motte juga mengimbau para aktivis yang hadir agar memaksimalkan segala daya yang dimiliki demi mencapai tujuan bersama rakyat Papua.

Selain Motte, ada Paula Makabory yang berbicara dari sudut pandang kemanusiaan dan Amatus Douw, aktivis Papua yang berperan sebagai moderator dalam diskusi yang dihadiri oleh 19 orang dan 3 anak balita.

Acara ditutup dengan menyanyikan lagu ciptaan misionaris Izaak Samuel Kijne “Hi Tanah ku Papua” dengan iringan gitar dan tifa.

Hai tanah ku Papua,
Kau tanah lahirku,
Ku kasih akan dikau
sehingga ajalku.

Kukasih pasir putih
Dipantaimu senang
Dimana Lautan biru
Berkilat dalam terang.

Kukasih gunung-gunung
Besar mulialah
Dan awan yang melayang
Keliling puncaknja.

Kukasih dikau tanah
Yang dengan buahmu
Membayar kerajinan
Dan pekerjaanku.

Kukasih bunyi ombak
Yang pukul pantaimu
Nyanyian yang selalu
Senangkan hatiku.

Kukasih hutan-hutan
Selimut tanahku
Kusuka mengembara
Dibawah naungmu.

Syukur bagimu, Tuhan,
Kau berikan tanahku
Beri aku rajin djuga
Sampaikan maksudMu.

 “Merdeka! Merdeka! Merdeka!” Spontan diteriakan bersama-sama diakhir lagu, sambil mengantarkan Motte bergegas ke Bandara International Tullamarine, Melbourne. (*)

Mama-mama Pasar

Mama-mama Pasar

Mama-mama pedagang asli Papua tuntut Segera realisasikan pasar traditional, Jayapura

Jakarta – Buku catatan bergaris itu sa buka lagi setelah setahun tertutup. Warnanya masih tetap sama seperti dulu, putih. Namun, sedikit terasa kasar ditangan saat sa pegang dan buka.

“Ahsim… ashim… .”

Sa langsung bersin-bersin. Barangkali karena debu yang tra kelihatan itu beterbangan, masuk ke sa pu hidung.

Isi buku catatan itu masih utuh. Tulisan seperti cakar ayam. Itu sebutan yang biasa sa dengar saat masih duduk dibangku sekolah dasar dua puluh tahun lalu.

Sa buka perlembar. Sa baca dan mengingat kembali saat peristiwa itu terjadi, peristiwa catat-mencatat. Waktunya setahun lalu, 2010.  Tanggal dan harinya bervariasi.

Continue reading “Mama-mama Pasar”

Bunga Plastik hidup dari Wamena

Jpeg
Agustus 2016. Saya membeli ‘sisa-sisa’ bunga Plastik di Pasar Jibama, Wamena. 

Pada tahun 80an, lembah Baliem terkenal dengan sebutan sebagai kota bunga dan kota sayur-mayur. Banyak pengakuan orang pendatang yang tinggal dikota ini, bahwa lembah baliem memiliki tanah gembur dan subur. Dan, pastinya tanpa pupuk buatan.

Segala jenis tanaman pertanian sangat cocok dibudidayakan di sini. Terutama kentang, wortel, berbagai jenis ubi-ubian, kembang kol, kol, buncis, sayur hipirika, sawi putih, sawi cina, bawang merah, bawang putih, dan masih banyak jenis lainnya.

Lembah baliem juga terkenal sebagai kota kembang. Tanahnya banyak menumbuhkan berbagai jenis kembang, bahkan jenis yang tak hidup di kota lain. Ia Bunga Plastik. Sebutannya bukan karena terbuat dari bahan-bahan plastik atau hasil industri pabrik, melainkan tumbuh dan berkembang dari dalam tanah lembah ini.

Bunga Plastik tumbuhan hidup, kembang cantik dengan berbagai warna.

“Jaman saya sekolah dulu, saat itu SD. Tahun 90 – an, setiap pinggir jalan di kota Wamena ditanami berbagai tanaman berbunga, termasuk bunga plastik,” kata ku kepada teman-teman kerja saat makan siang, disekitar Raden Saleh, Jakarta.

Kios-kios bunga dipinggiran bandara Wamena diwarnai oleh indahnya kembang bunga plastik ini. Ia begitu istimewa, salah satu alasan disebut bunga plastik karena memiliki daya tahan hingga berbulan-bulan bahkan mencapi tahunan.

Setelah dipetik, ia tetap akan bertahan, kembangnya tak akan mati. Pada sore menjelang malam, kembangnya akan tertutup. Pagi hari menjelang siang, ia akan mekar dengan penuh keindahannya. Ada warna merah berlapis kuning pada bagian dalamnya, ada pula warna jingga, dan putih.

Hampir disetiap halaman rumah memiliki tanaman bunga plastik. Ia menjadi ciri khas kota Wamena, setelah mumi kepala suku dari Kurulu.