Bunga Plastik hidup dari Wamena

Jpeg
Agustus 2016. Saya membeli ‘sisa-sisa’ bunga Plastik di Pasar Jibama, Wamena. 

Pada tahun 80an, lembah Baliem terkenal dengan sebutan sebagai kota bunga dan kota sayur-mayur. Banyak pengakuan orang pendatang yang tinggal dikota ini, bahwa lembah baliem memiliki tanah gembur dan subur. Dan, pastinya tanpa pupuk buatan.

Segala jenis tanaman pertanian sangat cocok dibudidayakan di sini. Terutama kentang, wortel, berbagai jenis ubi-ubian, kembang kol, kol, buncis, sayur hipirika, sawi putih, sawi cina, bawang merah, bawang putih, dan masih banyak jenis lainnya.

Lembah baliem juga terkenal sebagai kota kembang. Tanahnya banyak menumbuhkan berbagai jenis kembang, bahkan jenis yang tak hidup di kota lain. Ia Bunga Plastik. Sebutannya bukan karena terbuat dari bahan-bahan plastik atau hasil industri pabrik, melainkan tumbuh dan berkembang dari dalam tanah lembah ini.

Bunga Plastik tumbuhan hidup, kembang cantik dengan berbagai warna.

“Jaman saya sekolah dulu, saat itu SD. Tahun 90 – an, setiap pinggir jalan di kota Wamena ditanami berbagai tanaman berbunga, termasuk bunga plastik,” kata ku kepada teman-teman kerja saat makan siang, disekitar Raden Saleh, Jakarta.

Kios-kios bunga dipinggiran bandara Wamena diwarnai oleh indahnya kembang bunga plastik ini. Ia begitu istimewa, salah satu alasan disebut bunga plastik karena memiliki daya tahan hingga berbulan-bulan bahkan mencapi tahunan.

Setelah dipetik, ia tetap akan bertahan, kembangnya tak akan mati. Pada sore menjelang malam, kembangnya akan tertutup. Pagi hari menjelang siang, ia akan mekar dengan penuh keindahannya. Ada warna merah berlapis kuning pada bagian dalamnya, ada pula warna jingga, dan putih.

Hampir disetiap halaman rumah memiliki tanaman bunga plastik. Ia menjadi ciri khas kota Wamena, setelah mumi kepala suku dari Kurulu.

Advertisements